bank bjb Syariah | Mitra Amanah Usaha Maslahah

Dunia Islam

Bandung Juara

KB dan skenario zionis

LIHATLAH [pernah ada] iklan di televisi dan di billboard jalan atau surat kabar di mana-mana. "Dua anak cukup!", "Mau dikasih makan apa anak kita?", "Huh, tidak ada tempat untuk bermain", demikian seterusnya. Pada intinya, iklan-iklan ini mengajak masyarakat Indonesia untuk ber-KB atau mempunyai sedikit anak (dua anak tadi).

Dalam Kitab Zohar ada sebuah ayat yang menarik. "Angka Kelahiran Non Yahudi harus ditekan sekecil mungkin." Ayat ini menjadi landasan teologis untuk mengekang laju pertumbuhan ghoyim (orang-orang non Yahudi). Karenanya, tidak aneh program "dua anak lebih baik" itu diluncurkan rezim Orde Baru era 70-an yang sedang mesranya dengan Barat.

Indonesia tidaklah sendiri. Di China mereka menjalankan Program Kebijakan Satu Anak atau jìhuà shēngyù zhèngcè. Di negeri samba, orang-orang menyebut KB dengan Planejamento Familiar. India juga menjalankan program sama, mereka menyebutnya National Population Policy.

Lalu siapakah Tokoh Yahudi modern yang 'berjasa' menjalankan ayat Zohar dalam konteks praksis itu? Namanya memang tidak setenar Darwin, tapi gagasan Evolusionis tokoh Atheis itu merujuk padanya. Betul seperti dugaan anda, pria itu bernama Thomas Robert Malthus (1766-1834).Thomas Malthus, sejatinya adalah seorang pakar demografi Inggris sekaligus ekonom politk yang paling terkenal karena pandangannya yang pesimistik namun sangat berpengaruh tentang pertambahan penduduk.

Malthus beranggapan bahwa pertumbuhan sumber daya manusia tidak simetris dengan potensi sumber daya alam. Dalam An Essay on the Principle of Population (Sebuah Esai tentang Prinsip mengenai Kependudukan), Malthus membuat ramalan bahwa jumlah populasi akan mengalahkan pasokan makanan. Kondisi ini menurutnya akan menyebabkan berkurangnya jumlah makanan per orang. Pada titik inilah kekacauan akan terjadi. Dan apa yang diramalkan Darwin dengan nama Survival for the fittest akan menjadi keniscayaan.

Anehnya solusi yang ditawarkan Malthus untuk meredakan kemelut itu seakan menyelisihi Islam, yakni apa yang ia sebut sebagai preventive checks atau penundaan perkawinan. Malthus juga mengusulkan bahwa manusia tidak perlu memiliki banyak anak. Ide Malthus itu kini malah dikampanyekan oleh salah satu lembaga KB di Indonesia dengan pemeran salah seorang artis ternama. Menurut mereka menikah dini berbahaya dan dua anak lebih baik.

Pada gilirannya, ide Malthus yang masih sederhana dibuat menjadi praktis oleh kalangan Barat. Maka, muncullah kondom dari Maria Stopes (1880-1950). Alih-alih digunakan sebagai bagian dari kontrasepsi, namun dalam perkembangannya kondom justru dikampanyekan sebagai alat transaksi seks bebas.

Islam sebagai agama mulia sepanjang zaman telah mengatur persoalan ini. Bahwa banyaknhya anak bukanlah petanda kemiskinan seperti yang digembar-gemborkan Malthus dan kronco Yahudinya di PBB.

Yang menjadikan sebagian manusia mengalami kemiskinan atau krisis pangan justru adalah Kapitalisme Rostchild. Mereka lah yang berbondong-bondong mengeruk kekayaan negara-negara berkembang dan ketiga demi mewujudkan New World Order. Mereka juga yang membuat negara-negara miskin semakin melarat berkat tipu daya IMF melalui pinjaman hutang seperti Indonesia.

Jadi buat apa umat muslim khawatir memiliki banyak anak? Bukankah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, "Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat" [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa'id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik].

Jangankan manusia, binatangpun mendapat rezeki dari Allah. "Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rizkinya." (QS 11 : 6). Betul jadi kata Aa Gym, "Kenapa kita takut akan rezeki Allah, gajah aja gak sekolah gemuk-gemuk.

Plankton yang hidup didasar laut saja diberi rezeki, bagaimana dengan kita sebagai makhluk hidup yang mulia?"

Namun, sebaik-baiknya mereka membuat makar, maka hanya Allah sebagai pihak berkuasa. Hingga kini, jumlah umat muslim di Eropa dan Amerika menlonjak drastis. Melihat fenomena ini, bisa jadi Yahudi sedang gigit jari atau paling tidak frustrasi hingga menembak puluhan manusia seperti Teroris Breivik di Norwegia.Allahua'lam.
(islampos/ arrahmah.com/publikanews.com)
Minggu, Maret 29, 2015 | 0 komentar | Selengkapnya...

Ribuan Mahasiswa Masuk Jakarta Menjelang Aksi 20 Mei

JAKARTA  - Nampaknya para mahaasiswa sudah 'muak' dengan pemerintahan Jokowi yang membuat rakyat semakin menderita dengan berbagai kenaikan harga-harga yang menceki kehidupan rakyat. Jokowi sikapnya juga tidak jelas terhadap korupsi.

Ini yang membuat ribuan aktivis mahasiswa dari berbagai jaringan elemen kampus di daerah berencana menyerbu masuk Jakarta untuk menggelar aksi besar-besaran pada tanggal 20 Mei 2015 mendatang. Pihak aparat kepolisian diminta untuk tidak menghalangi.

"Seminggu sebelum tanggal 20 Mei, rekan-rekan mahasiswa dari berbagai daerah akan masuk Jakarta untuk bergabung dalam aksi besar-besaran di Istana Negara," demikian pesan singkat yang disebarkan oleh Progres 98, Sabtu 21 Maret 2015.

Suara rakyat secara perlahan mulai berhembus dan menggugah kesadaran mahasiswa di seluruh tanah air untuk bergerak dalam sebuah konsolidasi aksi nasional. Menurut berbagai informasi yang dihimpun redaksi  visibaru.com, konsolidasi lintas elemen aksi mahasiswa dan rakyat terus bergulir.

Perwakilan dari kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang berada di Pulau Jawa dikabarkan akan memasuki Jakarta pada tanggal 18 – 19 Mei.

Progres 98 menyerukan kepada seluruh kalangan pendukung perubahan untuk bersatu mendukung aksi mahasiswa dalam gerakan Kebangkitan Nasional 20 Mei.

"Sudah saatnya seluruh potensi anak bangsa bersatu dan bergerak mengepung Istana Negara melalui aksi damai untuk mendesak Jokowi – JK diturunkan dari kekuasaan," seruan Progres 98 melalui fan page  http://www.facebook.com/progres.98
Para mantan aktivis 1998 dan perhimpunan alumni dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta telah menyiapkan serangkaian pertemuan untuk kesiapan aksi. Aksi ini didahului di Universitas Indonesia Salemba yang sangat bersejarah, dan menjadi saksi sejarah dari gerakan mahasiswa. (abimantrono anwar/dbs/ voa-islam.com).
Minggu, Maret 29, 2015 | 0 komentar | Selengkapnya...

Raja Salman: Operasi Militer ke Yaman Berlanjut, Palestina dan Suriah Babak Selanjutnya

PELAYAN Dua Tanah Suci Raja Salman bin Abdul Aziz menegaskan bahwa operasi militer gabungan Dewan Kerja Sama Negara-Negara Arab Teluk (GCC) bertajuk"Aashifatul Hazm" (Badai Penghancur) menumpas pemberontak Syiah Al Hautsi (Syiah Al Houthi) di Yaman akan terus berlanjut sampai mengembalikan pemerintahn Yaman dalam keadaan aman dan pemerintahannya sesuai syar'i.

Hal tersebut disampaikan Raja Salman dalam sambutannya pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-26 di kota Syarm el-Syeikh, Mesir, Sabtu (28/03/2015) kemarin.

"Kami tegaskan bahwa operasi militer "Badai Penghancur" akan terus berlanjut sampai mencapai targetnya, yaitu memberikan rasa aman kepada Yaman, dengan izin Allah Ta'ala," ujar Raja Salman seperti dikutip alriyadh.com.

Raja Salman menjelaskan idiologi dan latar belakang diberlakukannya operasi militer terhadap Pemberontak Syiah Al Hautsi di Yaman.

Usai membahas masalah terorisme pemberontak Syiah Al Hautsi di Yaman, Raja Salman juga menyegarkan ingatan umat Islam agar tidak lupa masalah umat Islam di tanah Syam, khususnya Palestina dan Suriah.

"Sesungguhnya urusan Palestina tetap menjadi hal terpenting bagi kami, sebagaimana sikap Arab Saudi terhadap masalah ini dari dahulu untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina dan berdirinya negara Palestina yang berdaulat serta menjadikan kota Al-Quds yang mulia sebagai ibu kotanya.

Hal ini sejalan dengan keputusan Resolusi Legitimasi Internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab tahun 2002, keputusan ini disambut hangat oleh Dunia Internasional tetapi Israel merasa tidak mengetahuinya," tegas Raja Salman dalam sambutannya.

"Arab Saudi melihat bahwa telah tiba saatnya untuk menyadarkan kembali dunia internasional tentang kewajiban mereka untuk menjalankan keputusan Dewan Keamanan Inisiatif Perdamaian Arab," lanjutnya.

Krisis Suriah tidak terlupakan dan menjadi perhatian penting Raja Salman dalam KTT Liga Arab. Dalam sambutannya, Raja Salman menyampaikan keprihatinan dan kesedihan mendalam terhadap kedzaliman yang terjadi di Suriah.

"Krisis Suriah masih berputar pada tempatnya, penderitaan dan rasa sakit masih dirasakan rakyat Suriah akibat ulah sistem pemerintahan yang membombardir desa-desa dan kota-kota dari  udara dengan gas beracun dan bom peledak, sistem yang masih menolak semua upaya regional dan internasional untuk solusi damai," kata Raja Salman.

"Setiap upaya untuk mengakhiri tragedi Suriah harus berpegang pada keputusan pertama Konferensi Jenewa, kita tidak bisa membayangkan partisipasi dari tangan-tangan mereka yang diwarnai darah rakyat Suriah untuk menentukan masa depan Suriah," kata Raja Salman memberi isyarat bahwa Suriah hanya mengharapkan partisipasi dari saudaranya seiman untuk bangkit kembali.

Di samping membahas politik dan keamanan kekinian di atas, Pelayan Dua Tanah Suci juga membahas masalah ekonomi, senjata nuklir dan senjata pemusnah massal.

Raja Salman juga mengatakan, alasan serangan militer ke Yaman adalah permintaan Presiden Yaman Abdrabuh Mansur Hadi yang meminta bantuan Negara-negara Arab pasca 'kudeta' dan tekanan kelompok pemberontak Al-Hautsi. (hidayatullah.com/publikanews.com)
Minggu, Maret 29, 2015 | 0 komentar | Selengkapnya...

Cara Khilafah Mengendalikan Harga

Oleh: Hafidz Abdurrahman
Harga adalah hasil pertukaran antara uang dengan barang. Secara alami, harga ini ditentukan oleh supplay and demand (penawaran dan permintaan). Karena itu, jika barang yang ditawarkan jumlahnya melimpah, sedangkan permintaannya sedikit, maka harga akan turun. Jika barang yang ditawarkan jumlahnya sedikit, sedangkan permintaannya besar, maka harga akan naik.

Dengan demikian, harga akan mengikuti hukum pasar. Karena, hukum pasar tersebut ditentukan oleh faktor supplay and demand, maka untuk menjaga stabilitas harga di pasar, faktor yang harus diperhatikan oleh negara adalah faktor supplay and demand ini. Keseimbangan antara supplay and demand harus selalu diperhatikan oleh negara, sehingga harga tersebut benar-benar stabil.

Mematok Harga dan Inflasi
Ketika harga barang naik, orang berpikir sederhana, agar tidak naik, maka pemerintah harus turun tangan, mematok harga. Pandangan ini sepintas benar, meski faktanya tidak. Dengan mematok harga, memang harga bisa stabil pada waktu tertentu, tetapi cara ini justru menyebabkan terjadinya inflasi. Karena, diakui atau tidak, pematokan harga ini mengurangi daya beli mata uang.

Karena itu, Islam mengharamkan negara untuk mematok harga. Harga, justru oleh Islam dibiarkan mengikuti mekanisme pasar, supplay and demand. Ketika zaman Nabi, saat harga barang-barang naik, para sahabat datang kepada Nabi SAW meminta agar harga-harga tersebut dipatok, supaya bisa terjangkau. Tetapi, permintaan tersebut ditolak oleh Nabi, seraya bersabda, “Allah-lah yang Dzat Maha Mencipta, Menggenggam, Melapangkan rezeki, Memberi Rezeki, dan Mematok harga.” (HR Ahmad dari Anas). Dengan begitu, Nabi tidak mau mematok harga, justru dibiarkan mengikuti mekanisme supplay and demand di pasar.

Ketika Nabi mengembalikan kepada mekanisme pasar, bukan berarti negara kemudian sama sekali tidak melakukan intervensi. Tentu tidak. Hanya saja, tentu intervensinya bukan dengan mematok harga, namun dengan cara lain. Cara, yang tidak merusak persaingan di pasar.

Intervensi

Jika kenaikan harga barang itu terjadi, karena faktor supplay yang kurang, sementara demand-nya besar, maka agar harga barang tersebut bisa turun dan normal, negara bisa melakukan intervensi pasar dengan menambah supplay barang. Cara ini jelas tidak merusak pasar. Justru sebaliknya, menjadikan pasar tetap selalu dalam kondisi stabil. Kondisi ini bisa terjadi, karena boleh jadi di suatu wilayah telah mengalami krisis, bisa karena faktor kekeringan atau penyakit, yang mengakibatkan produksi barangnya berkurang. Akibatnya, supplay barang-barang di wilayah tersebut berkurang.

Untuk mengatasi hal ini, negara bisa menyuplai wilayah tersebut dengan barang-barang yang dibutuhkan dari wilayah lain. Kebijakan seperti ini pernah dilakukan oleh Umar, ketika wilayah Syam mengalami wabah penyakit, sehingga produksinya berkurang, lalu kebutuhan barang di wilayah tersebut disuplai dari Irak.

Jika kenaikan barang tersebut terjadi, karena supplay yang kurang, akibat terjadinya aksi penimbunan (ihtikar) barang oleh para pedagang, maka negara juga harus melakukan intervensi dengan menjatuhkan sanksi kepada pelaku penimbunan barang. Sanksi dalam bentuk ta’zir, sekaligus kewajiban untuk menjual barang yang ditimbunnya ke pasar. Dengan begitu, supplay barang tersebut akan normal kembali.

Jika kenaikan barang tersebut terjadi, bukan karena faktor supplay and demand, tetapi karena penipuan harga (ghaban fakhisy) terhadap pembeli atau penjual yang sama-sama tidak mengetahui harga pasar, maka pelakunya juga bisa dikenai sanksi ta’zir, disertai dengan hak khiyar kepada korban. Korban bisa membatalkan transaksi jual-belinya, bisa juga dilanjutkan.

Inflasi Nol

Inflasi terkait dengan daya beli mata uang, baik terhadap barang maupun jasa. Inflasi terjadi, bisa karena faktor mata uangnya, yang memang nilainya bisa berubah. Jika perubahan nilai mata uang tersebut karena nilai intrinsiknya, maka untuk menjaga stabilitas mata uang, sehingga inflasinya nol, tak ada cara lain, kecuali dengan menggunakan standar mata uang emas dan perak.

Inflasi juga bisa terjadi, karena uang yang ada dianggap tidak cukup untuk melakukan transaksi, akibat nilai nominalnya berkurang. Kondisi ini bisa diselesaikan, dengan diberlakukannya kebijakan larangan mematok harga dan jasa. Dengan begitu, uang yang tersedia akan selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa.

Ketika harga barang dan jasa tersebut naik, misalnya, sementara daya beli masyarakat rendah, dengan sendirinya demand-nya berkurang. Jika demand-nya berkurang, maka harga barang dan jasa tersebut, dengan sendirinya akan turun. Begitu seterusnya, hingga akhirnya mata uang yang tersedia selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa.

Kebijakan mencetak uang, ketika daya beli masyarakat rendah, karena jumlah uang yang beredar di tengah masyarakat sedikit, bukan meningkatkan daya beli masyarakat, justru mengakibatkan terjadinya inflasi. Karena jumlah mata yang banyak beredar di tengah masyarakat, ditambah dengan mata uang yang sudah ada sebelumnya, akan semakin menambah jumlah mata uang. Jika jumlah mata uang bertambah, otomatis akan terjadi inflasi. Karena, itu artinya, nilai mata uang tersebut turun.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, maka kebijakan negara Khilafah untuk mengendalikan stabilitas harga dilakukan dengan cara yang dibenarkan oleh syariat Islam, yaitu:
  1. Menjaga supplay and demand di pasar agar tetap seimbang. Bukan dengan mematok harga barang dan jasa.
  2. Jika supplay barang dan jasa berkurang, maka yang mengakibatkan harga dan upah naik, karena demand-nya besar, maka ketersediaan barang dan jasa tersebut bisa diseimbangkan kembali oleh negara dengan menyuplai barang dan jasa dari wilayah lain.
  3. Jika berkurangnya supplay barang karena penimbunan, maka negara bisa menjatuhi sanksi ta’zir, sekaligus kewajiban melepaskan barang pemiliknya ke pasar.
  4.  Jika kenaikan harga tersebut terjadi karena penipuan, maka negara bisa menjatuhi sanksi ta’zir, sekaligus hak khiyar, antara membatalkan atau melanjutkan akad.
  5. Jika kenaikan harga terjadi karena faktor inflasi, maka negara juga berkewajiban untuk menjaga mata uangnya, dengan standar emas dan perak. Termasuk tidak menambah jumlahnya, sehingga menyebabkan jatuhnya nilai nominal mata uang yang ada.
Ini langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh negara Khilafah, dalam mengendalikan harga barang dan jasa. (HTI)
Minggu, Maret 29, 2015 | 0 komentar | Selengkapnya...

Kebijakan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur

Kota Baghdad masa abassiyah
Sebelumnya, orang tidak pernah mengenal Baghdad, Kota 1001 Malam. Tetapi, setelah Abu Ja’far al-Manshur menjadi khalifah, dan memutuskan untuk menjadikan Baghdad sebagai ibukota Khilafah ‘Abbasiyyah, maka Baghdad pun berubah. Tahun 157 H, Abu Ja’far al-Manshur membangun istananya di sini. Inspirasi itu datang dari Aban bin Shadaqah dan ar-Rabi’, bekas budak al-Manshur.

Pada tahun yang sama, al-Manshur memindahkan pasar yang berdekatan dengan Dar al-Imarah, ke Bab al-Karakh. Tahun yang sama, al-Manshur mengeluarkan instruksi untuk melakukan pelebaran jalan-jalan. Kemudian menginstruksikan pembangunan jembatan di Bab as-Sya’ir. Pada tahun yang sama, al-Manshur mendemonstrasikan pasukannya dengan seragam dan persenjataannya, termasuk al-Manshur sendiri. Itu dilakukan di Dajlah.

Hanya dalam satu tahun, yaitu dari tahun 157-158 H, pembangunan istana tersebut berhasil dirampungkan. Istana itu diberi nama al-Khuld (keabadian). Selain istana al-Khuld, Baghdad sebagai ibukota negara Khilafah juga dibangun oleh al-Manshur. Baghdad ini kemudian diberi julukan, Madinatu as-Salam (Kota Kedamaian). Selain itu, dia juga membangun kota lain, yaitu ar-Rafiqah.

Agenda rutin Khalifah al-Manshur adalah, setiap pagi dia melakukan amar makruf dan nahi munkar, mengurus urusan wilayah, mengganti pejabat yang perlu diganti, serta mengkaji dan memperhatikan kemaslahatan publik. Setelah shalat Dzuhur, dia masuk rumah, istirahat hingga Ashar. Setelah shalat Ashar, dia duduk bersama keluarganya, kemudian mengkaji dan memperhatikan urusan keluarganya. Setelah shalat Isya’, dia mempelajari berbagai catatan dan surat yang datang dari berbagai penjuru dunia. Dia duduk bersama pembantunya hingga sepertiga malam. Kemudian menemui keluarganya, tidur di tempat tidurnya hingga sepertiga malam terakhir, lalu bangun mengambil wudhu’, shalat hingga fajar Subuh. Dia pun keluar, dan shalat bersama masyarakat, kemudian masuk dan duduk di singgasananya.

Begitulah kebiasaan al-Manshur. Namun, dia tidak lama tinggal di istana yang dibangunnya. Hanya beberapa hari mendiami istananya, al-Manshur berangkat menunaikan haji dengan membawa hadyu (sembelihan). Al-Manshur sendiri selama hidupnya sempat menunaikan ibadah haji beberapa kali. Tahun 140 H, 144 H, 147 H, 152 H, dan 158 H. Saat hendak menunaikan haji yang terakhir, ketika beberapa marhalah melintasi Kufah, dia terserang penyakit yang mengantarkan pada kematiannya. Karena cuaca panas, kondisinya semakin memburuk. Dia masih sanggup melanjutkan perjalanan untuk ibadah haji, meski dalam kondisi sakit, hingga memasuki Kota Mekkah.

Allah kemudian mentakdirkannya wafat di Mekkah, tepat malam Sabtu, 6 Dzulhijjah. Dishalatkan di sana, dan dimakamkan di Ma’la, yang terletak di atas Mekkah. Umurnya saat itu 73 tahun, ada yang mengatakan 74, ada yang mengatakan 76 tahun. Bahkan ada yang mengatakan, usianya saat itu telah memasuki 78 tahun. Wallahu a’lam.

Namun, wafatnya al-Manshur ini dirahasiakan oleh sekretarisnya, yang tak lain adalah bekas budaknya, ar-Rabi’, hingga al-Mahdi dibaiat oleh para panglima tentara dan pemuka Bani Hasyim, baru kemudian dia dimakamkan. Yang memimpin shalat jenazah untuknya adalah Ibrahim bin Yahya bin Muhammad bin ‘Ali. Dialah yang juga memimpin jamaah haji pada tahun itu. [Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 1517-1521]. (HTI)
Minggu, Maret 29, 2015 | 0 komentar | Selengkapnya...

Cara Khilafah Mengatasi Bencana Alam

Noria (kincir air) Albolafia di Sungai Guadalquivir, Cordoba

Oleh: Hafidz Abdurrahman

Musibah yang menimpa manusia merupakan qadha’ dari Allah SWT. Namun, di balik qadha’ tersebut ada fenomena alam yang bisa dicerna. Termasuk, ikhtiar untuk menghindarinya, sebelum terjadi. Karena itu, ketika Khalifah ‘Umar ditanya, “Apakah Anda akan melarikan diri dari qadar Allah?” Dengan tegas ‘Umar mengatakan, “Kita lari dari satu qadar Allah menuju qadar Allah yang lainnya.” Di sinilah letak ikhtiar manusia.

Tanah longsor terjadi, karena adanya dataran tinggi, baik karena curah hujan yang tinggi, maupun pergeseran bumi, mengakibatkan kepadatan tanah berubah. Akibatnya, terjadilah longsor. Dampak longsor tersebut menyebabkan runtuhnya bangunan, menghanyutkan apa saja yang ada di atas dataran tersebut. Pada saat yang sama, longsoran dari atas itu akan menimpa daerah yang lebih rendah. Maka, apapun yang ada di sana bisa tersapu oleh longsoran tanah dari atas.

Untuk mengatasi potensi maupun masalah seperti ini, khilafah bisa menempuh dua kebijakan sekaligus, yaitu preventif dan kuratif.

Kebijakan Preventif
Kebijakan preventif ini dilakukan sebelum terjadinya musibah. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mencegah terjadinya tanah longsor. Dalam hal ini bisa dirumuskan sebagai berikut:
Pertama, pada kasus tanah longsor yang disebabkan curah hujan yang tinggi, gundulnya dataran tinggi, serta tersumbatnya aliran air dari atas, maka khilafah akan menempuh upaya-upaya sebagai berikut:
  1. Memastikan terserapnya air, baik yang langsung diserap oleh tanah, maupun dialirkan ke bawah. Selain menjaga daerah tersebut tetap subur dengan pepohonan, dan tanaman sehingga akarnya bisa memperkuat konstruksi tanah, juga serapan dan aliran air dari atas ke bawah dipastikan tidak mengalami sumbatan. Karena itu, khilafah bisa membangun saluran air dari atas ke bawah, sehingga bisa mengurasi debit air yang tidak mampu ditampung oleh tanah, ketika curah hujan sangat tinggi.
  2. Membangun pondasi di lereng-lereng dataran tinggi sebagai tanggul penahan, dengan disertai saluran pori-pori air yang memadai, agar bisa berfungsi menahan tanah yang berada di dataran tinggi tidak longsor ke bawah.
  3. Aliran air yang meluncur dari atas bisa dibuatkan penampungan raksasa, semacam waduk, yang bisa digunakan untuk berbagai kepentingan. Bisa untuk supplay air ketika musim kering, atau untuk pembangkit listrik, dan sebagainya. Sekadar contoh, pada tahun 370 H/960 M, Buwayyah Amir Adud al-Daulah membuat bendungan hidrolik raksasa di sungai Kur, Iran.  Insinyur-insinyur yang bekerja saat itu, menutup sungai antara Shiraz dan Istakhir, dengan tembok besar (bendungan) sehingga membentuk waduk raksasa.  Di kedua sisi danau itu dibangun 10 noria (mesin kincir yang di sisinya terdapat timba yang bisa menaikkan air). Setiap noria terdapat sebuah penggilingan.   Dari bendungan itu air dialirkan melalui kanal-kanal dan mengairi 300 desa.   Di daerah sekitar 100 km dari kota Qayrawan, Tunisia, dibangun dua waduk yang menampung air dari wadi Mari al-Lil. Waduk kecil difungsikan sebagai tangki penunjang serta tempat pengendapan lumpur.  Sedangkan waduk besar memiliki 48 sisi dengan beton penyangga bulat di setiap sudutnya berdiameter dalam 130 meter, kedalaman 8 meter.
  4. Khilafah akan memetakan daerah-daerah rendah yang rawan terkena tanah longsor (akibat kapasitas serapan tanah yang minim dan lain-lain),  dan selanjutnya membuat kebijakan melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah-wilayah tersebut; atau jika ada pendanaan yang cukup, khilafah akan membangun kanal-kanal baru atau resapan agar air yang mengalir di daerah tersebut bisa dialihkan alirannya, atau bisa diserap oleh tanah secara maksimal.  Dengan cara ini, maka daerah-daerah dataran rendah bisa terhindar dari tanah longsor.
  5. Jika sebelumnya di daerah-daerah tersebut digunakan sebagai pemukiman, maka khilafah akan merelokasi pemukiman warga di daerah tersebut ke daerah lain dengan memberikan ganti rugi atau kompensasi kepada mereka. Berupa tanah dan rumah yang memadai untuk kehidupan mereka.
  6. Di daerah-daerah seperti ini, khilafah akan mendirikan pos pemantau, yang melibatkan BMKG, sehingga bisa memberikan laporan diri akan terjadinya pergerakan tanah, sebelum terjadinya longsor. Khilafah juga akan membangun early warning (peringatan dini), agar bisa sesegera mungkin melakukan tindakan cepat dan darurat, khususnya bagi warga yang mungkin bisa terkena dampak, jika musibah tanah longsor ini terjadi.
  7. Tidak kalah pentingnya adalah edukasi kepada masyarakat, baik yang terkait dengan potensi bencana, bagaimana cara menyelamatkan diri, juga bagaimana menyikapi bencana dengan benar. Edukasi ini sangat membantu, bukan hanya negara, tetapi juga masyarakat.
Keduadalam aspek undang-undang dan kebijakan, khilafah akan menggariskan beberapa hal penting berikut ini:
  1. Khilafah membuat kebijakan tentang master plan, di mana dalam kebijakan tersebut ditetapkan sebuah kebijakan sebagai berikut, antara lain, pembukaan pemukiman, atau kawasan baru, harus menyertakan variabel-variabel penyediaan daerah serapan air, penggunaan tanah berdasarkan karakteristik tanah dan topografinya.
  2. Khilafah akan mengeluarkan syarat-syarat izin pendirian bangunan. Jika seseorang hendak membangun sebuah bangunan, baik rumah, toko, dan lain sebagainya, maka ia harus memperhatikan syarat-syarat tersebut.  Hanya saja, khilafah tidak menyulitkan rakyat yang hendak membangun sebuah bangunan.  Bahkan khilafah akan menyederhanakan birokrasi, dan menggratiskan surat izin pendirian bangunan bagi siapa saja yang hendak membangun bangunan.  Namun, jika pendirian bangunan di lahan pribadi atau lahan umum, bisa mengantarkan bahaya (madharat), maka khalifah diberi hak untuk tidak menerbitkan izin pendirian bangunan.
  3. Khilafah akan membentuk badan khusus yang menangani bencana-bencana alam (BNPB) yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan berat, evakuasi, pengobatan,  dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana.  Selain dilengkapi dengan peralatan canggih, petugas-petugas lapangan juga dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup tentang SAR (search dan rescue), serta ketrampilan yang dibutuhkan untuk penanganan korban bencana alam.
  4. Khilafah menetapkan daerah-daerah tertentu sebagai daerah cagar alam yang harus dilindungi.  Khilafah juga menetapkan kawasan hutan lindung, dan buffer zone yang tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan izin.   Khilafah menetapkan sanksi berat bagi siapa saja yang merusak lingkungan hidup tanpa pernah pandang bulu.
  5. Khilafah terus menerus menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan, serta kewajiban memelihara hutan dan resapan dari kerusakan.
Kebijakan Kuratif
Selain kebijakan preventif, sebelum terjadinya bencana, Khilafah juga harus melakukan tindakan kuratif, ketika dan pasca bencana. Antara lain sebagai berikut:
  1. Khalifah sebagai kepala negara tampil di televisi, radio atau sosial media untuk menyampaikan pidato yang isinya mengingatkan rakyat, agar bersabar dan ridha menerima qadha’ Allah SWT. Meminta rakyat untuk bertaubat seraya menyerukan kepada seluruh rakyat untuk menolong dan membantu korban, dan mendoakan mereka.
  2. Menangani korban bencana dengan bertindak cepat, melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana.  Khilafah menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak agar korban tidak menderita kesakitan akibat penyakit, kekurangan makanan, atau tempat istirahat yang tidak memadai. Selain itu, Khalifah juga melakukan mental recovery, dengan melibatkan alim ulama.
  3. Negara sendiri akan menyediakan alokasi anggaran untuk menghadapi bencana, bisa dari zakat, kekayaan milik umum, maupun yang lain. Dengan begitu, negara bisa bertindak cepat, tanpa harus menunggu uluran tangan masyarakat.
Inilah kebijakan Khilafah untuk mengatasi bencana tanah longsor.  Kebijakan tersebut tidak saja didasarkan pada pertimbangan rasional, tetapi juga oleh nash syariah.  Dengan kebijakan seperti ini, insya Allah, masalah tanah longsor ini bisa ditangani dengan cepat, tuntas dan baik. (HTI)
Minggu, Maret 29, 2015 | 0 komentar | Selengkapnya...
Kuliner Nasional